Pkn Unggul ATIM
Jumat, 25 Mei 2012
PTK PKN NURLEILI
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X. 3
SMA Negeri Unggul Aceh Timur
Pada Materi penghormatan dan perlindungan HAM di Indonesia
Melalui Penerapan Metode sramble
proposal
Disusun Oleh
NURLEILI,S.pd
Nip.19720710200504 2 002
Dinas Pendidikan dan Pengajaran Aceh timur
Tahun 2011
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam pembelajaran PKN di kelas X-3 khususnya di materi penghormata dan perlindungan HAM di Indonesia merupakan pelajaran yang kurang menarik bagi siswa, hal tersebut disebabkan siswa hanya terpaku pada kemampuan menjawab pertanyaan yang tersedia, memberi variasi pada saat menjawab, sehingga siswa jenuh dengan kegiatan yang monoton dalam melaksanakan pembelajaran. Kejenuhan siswa mengakibatkan kurang termotivasinya untuk mengikuti pembelajaran pkn serta dapat menurunnya prestasi siswa dalam mata pelajaran pkn.
Dari analsis hasil belajar siswa pada dua tahun terakhir khususnya pada materi penghormatan dan perlindungan HAM di Indonesia. menujukan hasil yang kurang memuaskan dimana dari 24 siswa hanya 5 siswa yang tercapai kriteria ketuntasan minimalnya di kelas X.3
Dalam pembelajaran PKN agar mudah dimengerti oleh siswa, Caranya dengan menciptakan rangsangan – rangsangan yang tepat sesuai dengan perkembangan situasi belajar yang mengarahkan kepada proses belajar yang lebih aktif dengan menggunakan model – model pembelajaran yang menarik.
Langkah-langkah tersebut memerlukan partisipasi aktif dari siswa. Untuk itu perlu ada metode pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung dalam pembelajaran.Adapun metode yang dimaksud adalah metode pembelajaran kooperatif salah satunya model scamble
Berdasarkan paparan tersebut diatas maka peneliti ingin mencoba melakukan penelitian dengan judul “ Meningkatkan hasil Belarjar Siswa Kelas X.3 SMA Negeri Uunggul Aceh Timur Materi penghormatan dan perlindungan HAM di Indonesia Melalui Penerapan Model scramble
B. Rumusan Masalah
Merujuk pada uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah penelitan adalah “Apakah penggunaan model SCAMBLE dapat meningkatkan hasil belajar pada materi penghormatan dan perlindungan HAM siswa Kelas X.3 SMA Negeri Unggul Aceh Timur
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan atas rumusan masalaah di atas, maka tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah: Untuk mengetahui Apakah penggunaan model Scramble dapat meningkatkan hasil belajar pada materi penghormatan dan peningkatan HAM di Indonesia Kelas X.3 SMA Negeri Unggul Aceh Timur.
.
D. Manfaat Penelitian
Penulis mengharapkan agar hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi
Guru :
Melatih guru membuat karya ilmiah
Meningkatkan profesionalisme guru
Menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang peranan guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa
Siswa :
Membuat pembelajaran lebih menyenangkan
Membantu siswa ubtuk lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran
Siswa, dapat meningkatkan motiviasi belajar dan melatih sikap sosial untuk saling peduli terhadap keberhasilan siswa lain dalam mencapai tujuan belajar.
Sekolah:
Hasil dan temuan penulis ini dapat memberikan informasi tentang pembelajaran kooperatif model scramble dalam pembelajaran pkn, oleh guru Kelas X.3 SMA Negeri Unggul Aceh Timur Tahun pelajaran 2011/2012
Sumbangan pemikiran bagi sesama guru dalam mengajar dan meningkatkan pemahaman siswa belajar pkn.
E. Batasan masalah
Dalam penelitian tindakan kelas ini batasan masalah meliputi
1.penelitian dilakukan di kelas X.3 siswa SMA Negeri Unggul Aceh Timur
2.Materi yang disampaikan di batasi pada materi penghormatan dan perlindungan HAM di Indonesia SMA Negeri Unggul Aceh Timur.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Pendidikan, Pengajaran dan Belajar
Pendidikan diartikan berbeda oleh beberapa ahli, tetapi perbedaan itu terdapat pada redaksionalnya saja, intinya tetap memiliki kesamaan. Dalam Muhibbin (1995) disebutkan bahwa akar kata pendidikan adalah “didik” atau “mendidik” yang secara harfiah artinya memelihara dan memberi latihan. McLeod dalam Muhibbin (1995) mengatakan bahwa education atau pendidikan berarti perbuatan atau proses perbuatan untuk memperoleh pengetahuan. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indoneisa pengertian “pendidikan” adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
Adapun mengenai istilah “pengajaran” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991) berasal dari kata “ajar”, artinya petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut). Kata “mengajar” berarti memberi pelajaran. Contoh: “Guru itu mengajar bidang study pkn ” Sedangkan kata “mengajarkan” berarti memberikan pelajaran. Contoh: Siapa yang mengajarkan pkn kepada siswa sma Berdasarkan arti-arti ini, kemudian Kamus Besar Bahasa Indonesia itu mengartikan pengajaran sebagai “proses perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan” (Muhibbin, 1995).
Belajar adalah kata kunci yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada proses pendidikan. Karena demikian pentingnya arti belajar, bagian terbesar upaya riset dan eksperimen psikologi pendidikan pun diarahkan pada tercapainya pemahaman yang lebih luas dan mendalam mengenai proses perubahan manusia itu (Muhibbin, 1995)
B. Hasil Belajar pkn
Belajar itu sebagai suatu proses perubahan tingkah laku, atau memaknai sesuatu yang diperoleh. Akan tetapi apabila kita bicara tentang hasil belajar, maka hal itu merupakan hasil yang telah dicapai oleh si pebelajar.
Hasil belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru. Nawawi (1981: 100) mengemukakan pengertian hasil adalah sebagai berikut: Keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau skor dari hasil tes mengenai sejumlah pelajaran tertentu.
Menurut Nawawi (1981: 127), berdasarkan tujuannya, hasil belajar dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
Hasil belajar yang berupa kemampuan keterampilan atau kecakapan di dalam melakukan atau mengerjakan suatu tugas, termasuk di dalamnya keterampilan menggunakan alat.
Hasil belajar yang berupa kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan tentang apa yang dikerjakan.
Hasil belajar yang berupa perubahan sikap dan tingkah laku.
Hasil belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor. Secara implisit, ada dua faktor yang mempengaruhi hasil belajar anak, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor Internal
Faktor internal meliputi faktor fisiologis, yaitu kondisi jasmani dan keadaan fungsi-fungsi fisiologis. Faktor fisiologis sangat menunjang atau melatar belakangi aktivitas belajar. Keadaan jasmani yang sehat akan lain pengaruhnya dibanding jasmani yang keadaannya kurang sehat. Faktor psikologis, yaitu yang mendorong atau memotivasi belajar. Faktor-faktor tersebut diantaranya:
Adanya keinginan untuk tahu
Agar mendapatkan simpati dari orang lain.
Untuk memperbaiki kegagalan
Untuk mendapatkan rasa aman.
Faktor Eksternal
Faktor-faktor eksternal, yaitu faktor dari luar diri anak yang ikut mempengaruhi belajar anak, yang antara lain berasal dari orang tua, sekolah, dan masyarakat.
Faktor yang berasal dari orang tua
Faktor yang berasal dari orang tua ini utamanya adalah sebagai cara
mendidik orang tua terhadap anaknya. Dalam hal ini dapat dikaitkan suatu teori, apakah orang tua mendidik secara demokratis, pseudo demokratis, otoriter, atau cara laisses faire. Cara atau tipe mendidik yang demikian masing-masing mempunyai kebaikannya dan ada pula kekurangannya.
Faktor yang berasal dari sekolah
Faktor yang berasal dari sekolah dapat berasal dari guru, dan metode yang diterapkan. Faktor guru banyak menjadi penyebab kegagalan belajar anak, yaitu yang menyangkut kepribadian guru, kemampuan mengajarnya. Keterampilan, kemampuan, dan kemauan belajar anak tidak dapat dilepaskan dari pengaruh atau campur tangan orang lain melainkan menjadi tugas guru untuk membimbing anak dalam belajar.
Faktor yang berasal dari masyarakat
Anak tidak lepas dari kehidupan masyarakat. Faktor masyarakat bahkan sangat kuat pengaruhnya terhadap pendidikan anak. Pengaruh masyarakat bahkan sulit dikendalikan. Mendukung atau tidak mendukung perkembangan anak, masyarakat juga ikut mempengaruhi.
Selain beberapa faktor internal dan eksternal di atas, faktor yang mempengaruhi hasil belajar dapat disebutkan sebagai berikut:
Minat
Seorang yang tidak berminat mempelajari sesuatu tidak akan berhasil dengan baik, tetapi kalau seseorang memiliki minat terhadap objek masalah maka dapat diharakan hasilnya baik. Masalahnya adalah bagaimana seorang pendidik selektif dalam menentukan atau memilih masalah atau materi pelajaran yang menarik siswa..
Kecerdasan
Kecerdasan memegang peranan penting dalam menentukan berhasil tidaknya seseorang.Berbagai penelitian menunjukkan hubungan yang erat antara tingkat kecerdasan dan hasil belajar di sekolah (Sumadi, 1989: 11).
Bakat
Bakat merupakan kemampuan bawaan sebagai potensi yang perlu dilatih dan dikembangkan agar dapat terwujud.Belajar pada bidang yang sesuai dengan bakatnya akan memperbesar kemungkinan seseorang untuk berhasil.
Motivasi
Motivasi merupakan dorongan yang ada pada diri anak untuk melakukan sesuatu tindakan.Ada dua macam motivasi yaitu motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik.Motivasi instrinsik adalah motivasi yang ditimbulkan dari dalam diri orang yang bersangkutan.Sedangkan, motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul oleh rangsangan dari luar atau motivasi yang disebabkan oleh faktor-faktor dari luar misalnya hadiah, persaingan, pertentangan, pujian dan hukuman.Motivasi ini tetap diperlukan di sekolah karena tidak semua pelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa
Pendekatan Belajar
Menurut Ballard & Clanchy (1990) dalam Muhibbin (1995), pendekatan belajar siswa pada umumnya dipengaruhi oleh sikap terhadap ilmu pengetahuan. Ada dua macam siswa dalam menyikapi ilmu pengetahuan, yaitu: 1) sikap melestarikan apa yang sudah ada (conserving); dan 2) sikap memperluas (extending).
Menurut hasil penelitian Biggs (1991), pendekatan belajar siswa dapat dikelompokkan ke dalam tiga bentuk dasar, yaitu: 1) pendekatan surface; 2) pendekaan deep; 3) pendekatan achieving (Muhibbin, 1995).
Sedangkan pendekatan Skramble adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan siswa dengan situasi di dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning communitiy), pemodelan (Modelling), dan Authentic Assesment atau penilaian sebenarnya (Pendidikan Kontekstual, Depdiknas-Dirjen Dikdasmen-Drt. Pendidikan Lanjutan Pertama, 2002).
D. Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang di dalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Adapun berbagai elemen dalam pembelajaran kooperatif adalah adanya: “(1) saling ketergantungan positif; (2) interaksi tatap muka; (3) akuntabilitas individual, dan (4) keterampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi atau keterampilan sosial yang secara sengaja diajarkan” (Abdurrahman & Bintoro, 2000:78-79)
Dalam pembelajaran kooperatif, guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan. Hubungan yang saling membutuhan inilah yang dimaksud dengan saling memberikan motivasi untuk meraih hasil belajar yang optimal.
Gagasan utama dibalik model Skramble adalah untuk memotivasi para siswa untuk mendorong dan membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan-keterampilan yang disajikan oleh guru. Jika para siswa menginginkan agar kelompok mereka memperoleh penghargaan, mereka harus membantu teman sekelompoknya mempelajari materi yang diberikan. Mereka harus mendorong teman mereka untuk melakukan yang terbaik dan menyatakan suatu norma bahwa belajar itu merupakan suatu yang penting, berharga dan menyenangkan
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Setting penelitian
1. Tempat Penelitian
Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini dilakukan di Kelas X.3 SMA Negeri Unggul Aceh Timur dimana peneliti merupakan guru mata pelajaran pkn di kelas tersebut.
2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau saat penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan pada September sampai dengan Oktober 2011 semester ganjil
Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah Kelas X.3 SMA Negeri Unggul Aceh Timur dengan jumlah 24.orang terdiri dari 11 orang perempuan dan 13 orang laki-laki
Sumber Data
Sumber datanya adalah guru peneliti yang membimbing mata pelajaran pkn observer dari siswa serta masukan-masukan dari sesama rekan dewan guru melalui diskusi
Metode Pengumpulan Data
Untuk memperoleh sejumlah data dilapangan dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik pengumpulan data
Tes
Tes digunakan untuk memperoleh informasi tentang ketuntasan yang dicapai.Tes yang digunakan adalah tes awal dan tes ahir. Tes awal dilakukan untuk mengetahui pengetahuan awal siswa sedangkan tes ahir dilakukan setelah PBM dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pelajaran yang telah diikuti
Observasi
Observasi digunakan untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan belajar mengajar berupa pengamatan aktivitas siswa selama PBM dengan menggunakan model berdarkan masalah
Teknik Analisis Data
Data dianalisis secara deskriptif , Data yang diperoleh dari penelitian ini diuji dengan persentase yang dijelaskan oleh Anas Sudijono :
P= f/N x 100 %
P.presentasi keberhasilan
F.jumlah siswa yang tuntas kkm
N. Jumlah sekuruh siswa
F.Indikator Kerja
Yang menjadi indicator kinerja dalam penelitian ini adalah :
Rata-rata nilai siswa 6,0 belum mencapai KKM
40% siswa memperoleh nilai 70 keatas
85% siswa aktif dalam proses pembelajaran dan mencapai peningkatan ketuntasan belajar
G. Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam 3 siklus, setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaaan, observasi dan refleksi
Perencanaa
Dalam hal ini guru menyiapkan perangkat pembelajarannya yang sesuai dengan materi akan diberikandan tertuang dalam RPP yang sudah dipersiapkan
Pelaksanaan
Guru memberikan informasi tentang model yang akan dilakukan yaitu berdasarkan masalah,dalam hal ini guru membagi kelompok dan menyajikan masalah kepada siswa berupa soal yang sesuai dengan RPP yang harus diselesaikan oleh siswa, siswa diberikan kebebasan untuk belajar mandiri dan berdiskusi dalam kelompok
Dalam hal ini siswa yang akan menyelesaikan masalah dan menyiapkan semua bahan untuk dipresentasikan didepan kelas kepada teman-temannya
Observasi
Guru dan observer mengamati semua proses pembelajaran yang disajikan siswa didalam kelas, mencatat kendala-kendala apa saja yang muncul pada saat berlangsungnya pembelajaran
Refleksi
Mendiskusikan hasil pengamatan untuk perbaikan pada siklus kedua. Refleksi merupakan analisis hasil pengamatan dan evaluasi dari tahapan-tahapan dalam siklus pertama. Siklus berikutnya dilaksanakan dengan tahapan sama dan materi yang berbeda.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Abdullah,H,Rozali dan syamsir 2002.
Bahar ,Saafroedin 1996.Hak Asasi Manusia.jakarta Sinar Harapan
Tilaar,H,A.R.ET AL 2001 Demensi-dimensi Hak Asasi Manusia dalam kurikulum persekolahan Indonesia Bandung .
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
A. Deskripsi Kondisi Awal
Siswa kelas X.3 SMA Negeri Unggul Aceh Timur merupakan kategori rendah berdasarkan pada nilai hasil tes seleksi penerimaan siswa baru tahun ajaran 2011/2012. Dari hasil analisis nilai psikomotor yang merupakan indikator dari implementasi praktek berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan pada beberapa SK dan KD di semester ganjil tahun pelajaran 2011/2012 menunjukan bahwa hampir semua siswa (25 %) tidak tuntas KKM dan harus mengikuti remedial. Hanya 75% yang sudah tuntas tapi hanya sebatas nilai KKM yang telah ditentukan (70). Dari hasil pengamatan penulis yang dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung sebagain besar siswa mempunyai motivasi yang rendah dan kurang tertarik dengan pelajaran pkn khususya pada materi HAM bahkan dari tanya jawab dengan beberapa siswa ada yang menyatakan takut untuk belajar pkn karena waktu di SMP baru mengenal pelajaran pkn .di SD siswa belum mengenal materi pkn.karna komlik yang berkepanjangan khusus di Aceh . Hasil diskusi dengan beberapa guru yang mangajar di kelas X.3 . juga menghasilkan hal yang sama di mana siswa memiliki daya tangkap yang rendah dan belum terbiasa dengan metode pembelajaran yang menuntut untuk tampil di depan kelas.
Hanya 5 orang saja yang memilki kemampuan yang lebih dan sudah pernah berbicara di depan kelas walaupun dengan bahasa Indonesia yang masih dicampur dengan bahasa Aceh.
B. Deskripsi Siklus I
B.1 Perencanaan (Planning)
Pada tahap perencanaan siklus I, penulis membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), skenario dan skedul yang akan dilakukan siswa, mempersiapkan bahan dan peralatan pembelajaran serta bahan dan alat evaluasi yang diperlukan. Dalam kegiatan perencanaan ini tim peneliti melakukan kerjasama dengan mempertimbangkan dan berdasarkan pada gambaran kondisi awal kelas X.3
Kemudian dilanjutkan dengan tahap pelaksanaan. Pada tahap ini terdiri dari empat pertemuan.
B.2 Pelaksanaan (Implementing) Siklus I
a. Pertemuan I Siklus I
Pertemuan I pada silkus I dilaksanakan pada hari Rabu ,07 september 2011. Selama 5 menit guru meminta siswa untuk membuat kelompok dengan masing masing kelompok terdiri dari 3 orang. Pembagian kelompok dilakukan dengan cara membuat nomor lot 1 sampai dengan 5, lalu dibagikan kepada siswa. Siswa yang mendapatkan nomor yang sama menjadi satu kelompok. Setelah itu siswa duduk berdasarkan kelompoknya masing masing.
Kemudian selama 15 menit guru menjelaskan materi tentang penghormatan dan perlindungan HAM di Indonesia secara rinci .dengan menggunanakan alat bantu infocuse dan power point
Setelah itu dilanjutkan dengan diskusi tentang permasalahan yang muncul dan penyelesianya selama 70 menit.
b. Pertemuan II Siklus I
Pertemuan II siklus I dilaksanakan pada hari kamis tanggal 13 september 2011 Pada Pertemuan ini guru menjelaskan tentang metode Sramble yang digunakan dalam materi penghormatan dan perlindungan HAM di Indonesia .Dalam pembelajaran ini masing masing anggota kelompok akan menjawab soal .Dan satu orang sebagai tim ahli. Selanjutnya dengan kerja kelompok siswa ditugaskan untuk menpelajari materi tentang HAM . Kegiatan ini dilakukan dengan bantuan internet, koran, majalah atau media lain yang merupakan referensi sumber materi . Setelah mendapatkan tugas masing -masing kelompok menjewab saol yang diacak – acak oleh guru. Semua kegiatan dilakukan selama 40 menit.
c. Pertemuan III Silkus I
Pertemuan ini dilaksanakan pada hari kamis tanggal.29 september 2011. Setelah masing masing kelompok menentukan jawabannya . selanjutnya guru menugaskan untuk meluruskan konsep. Siswa bisa menghafal dan memahami isi yang sudah diacak kata-katanya dalam materi Penghormatan dan perlindungan HAM di Indonesia . Selanjunya Dalam kegiatan ini guru dan tim peneliti yang lain berfungsi untuk mengarahkan, memfasilitasi dan membantu memecahkan permasalahan yang muncul dengan cara berkeliling dan secara aktif berkunjung ke masing masing kelompok. Kegiatan ini berlangsung selama 2x45 menit.
d. Pertemuan IV Silkus I
Pertemuan IV siklus I dilaksanakan pada Hari Selasa Tanggal 1 Nopember 2011. Setelah berdiskusi dan berlatih di pertemuan III, pada pertemuan yang ke IV masing masing kelompok ditugaskan untuk mempraktekan dan menunjukan rangkaian kegiatan. Kegiatan ini sekaligus merupakan tes dari semua kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui tingkat peningkatan kemampuan siswa dalam memahami dan menjawab soal .Guru memberikan penilaian dengan berdasarkan pada tes tertulis .lima soal dalam bentuk essay. Kegiatan ini dilakukan selama 20 menit. Nilai hasil ulangan siswa pada siklus I dapat dilihat pada table berikut ini:
Tabel Hasil Ulangan Harian (Siklus I)
PENILAIAN KOGNITIF
Mata Pelajaran PKN
Kelas / Smt X.3./1
MODEL SKRAMBLE
JENIS TEKS TERTULIS
No Nama Siswa NILAI KD KETERANGAN
1 Abdillah 70 TUNTAS
2 Apis Sumarna 56 REMEDIAL
3 Dian Suryana 72 TUNTAS
4 Dorwansyah 60 REMEDIAL
5 Febriansyah 72 TUNTAS
6 Fitrah Febriansyah 60 TUNTAS
7 Haris Akbar 72 TUNTAS
8 Heri Herian B 50 REMEDIAL
9 Icha Noviska 74 TUNTAS
10 Julian Maulidan 53 REMEDIAL
11 Maulana Akbar 75 REMEDIAL
12 Musriza 70 TUNTAS
13 Nurul Aulia 50 REMEDIAL
14 Rabial Riski 60 REMEDIAL
15 Said Nanda E 70 TUNTAS
16 Sri Wulandari 74 TUNTAS
17 Syahrial Andika 80 TUNTAS
18 tiara Intan ultari 74 TUNTAS
19 ayu wida yanti 77,5 TUNTAS
RERATA 62.56
Dari table di atas dapat kita lihat bahwa sebanyak 8 (47%) orang telah mencapai nilai ketuntasan dengan nialai yang didapat di atas KKM (70). Sedangnkan 9 orang (53%) belum mencapai nilai tuntas dengan nilai di bawah KKM yang telah ditetapkan.
e. Pengamatan ( Observing) Siklus I
Pengamatan siklus I dilakukan oleh dua orang observer. Aspek yang diamati adalah aktivitas siswa dalam pembelajaran dan guru pada penyajian pembelajaran. Pengamatan aktivitas siswa dalam Pembelajaran dilakukan oleh Endang Siwati S.Pd., sedangkan penyajian pembelajaran oleh guru diamati oleh Isreja Suhartoni, S.Pd. Pengamatan pada siklus I pada saat proses pembelajaran dilakukan dengan tujuan untuk mencari data tentang motivasi dan perasaan siswa secara kualitatif. Motivasi diukur dan dinilai dengan rentang 1 s/d 3, rentang kurang/rendah (skala 1), rentang sedang (skala 2) dan rentang baik (skala 3). Hasil belajar siswa diukur dengan menggunakan tes praktek. Untuk penilaian hasil belajar diamati dan dilakukan oleh tim peneliti pengampu pelajaran Sejarah,S.Pd dan Nurleili. S.Pd
Pada pengamatan siklus I pengamat menemukan data sebagai berikut:
Hasil yang sudah positif.
Siswa sangat antusias untuk mencari materi yang sudah diberikan oleh guru.
Setiap kelompok bersemangat untuk melakukan kegiatan mecari, merevisi dan menghafal serta memahami sesuai dengan peran dan fungsinya masing masing dalam kelompok.
Siswa sangat antusias untuk menanyakan kesulitan yang dihadapi, terutama menanyakan kata kata baru yang didapat dalam materi.
Setiap kelompok dapat menyelesiakan tugas kelompoknya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Setiap kelompok dapat mempresentasikan hasil kerja dan diskusi kelompoknya di depan kelas.
Hasil yang masih perlu perbaikan pada siklus berikutnya:
Ada 2 kelompok yang kurang kompak dalam kerja sama baik dalam mencari bahan materi maupun dalam materi. tugas dan peranya masing masing.
Guru agak kewalahan untuk memberikan pelayanan terhadap masalah yang muncul selama proses kerja kelompok karena banyaknya pertanyaan dari siswa.
Pada saat tampil ke depan masih banyak siswa yang gugup (nervous) dan masih terpaku dan sangat bergantung pada buku atau catatan
Hasil tes tertulis yang diukur menggunakan model scramble . diperoleh data hanya (45%) tuntas
Refleksi (Reflecting) Siklus I
Refleksi siklus I dilaksanakan setelah siklus I selesai dilakukan. Kegiatan refleksi dilakukan dalam bentuk musyawarah tim peneliti. Semua hasil pengamatan didiskusikan dan dicarikan penyelesaiannya untuk dijadikan pedoman pelaksanaan siklus II. Berdasarkan pada hasil pengamatan diperoleh masukan sebagai berikut:
Penyelesian dari masalah yang muncul pada silkus I adalah memberikan pengarahan kepada anggota kelompok yang kurang bisa bekerja sama dengan pendekatan pemecahan masalah yang muncul dalam kelompok.
Untuk lebih mengintefisikan bimbingan siswa dalam kerja kelompok, peneliti meminta bantuan guru Ekonomi . yang lain untuk membantu memberikan bimbingan kepada kelompok sehingga pada siklus berikutnya pangajaran dilakukan dengan Anggota kelompok.
Kerena kendala akses internet yang sering tidak connect dan keterbatasan bahan bahan cetak seperti surat kabar, maka sebaiknya pencarian bahan materi dilakukan di luar jam tatap muka, sehingga ketika masuk kelas siswa sudah siap dengan materi yang akan di diskusikan .
Pada Siklus berikunya, masing masing anggota kelompok tidak dibenarkan membuka buku atau catatan lainya.ketika di berikan tugas untuk masing-masing kelompok.
Ini disarankan dengan tujuan untuk membiasakan siswa tidak terpaku pada catatan ketika di berikan tugas.
C. Deskripsi Siklus II
Siklus II terdiri dari tiga sesi (pertemuan). Pada siklus II ada beberapa pemberian tindakan berbeda yang diberikan sebagai tindak lanjut dari hasil refleksi silkus I. Pada silkus II tidak ada perombakan anggota kelompok, siswa masih tetap di kelompoknya masing masing seperti pada sklus I
C.1. Perencanaan (Planning) Silkus II
Pada pertemuan ini masing masing anggota kelompok ditugaskan untuk menjawab soal yang sudah di acak-acak.Setelah masing- masing anggota kelompok menjawab soal yang sudah diacak-acak.
C.2 Pelaksanaan (Implementing) Silkus II
a. Pertemuan 1 Siklus II
Pertemuan 1 pada siklus II dilaksanaka pada hari Kamis tanggal 14 April 2011. Karena materi yang akan didiskusikan telah dicari di luar jam tatap muka setelah siklus I selesai, tugas selanjutnya kelompok mendiskusikan materi yang telah dipilih dengan kegiatan yang sama seperti pada siklus I . Guru pembimbing yang merupakan tim peneliti mendatangi kelompok dan memberikan bantuan kepada kelompok yang menemukan permasalahan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi. Kegiatan ini berlansung 2 x 45 menit.
b. Pertemuan 2 Silkus II
Pada pertemuan/sesi II pada hari Jumat tanggal 11-nopember 2011, siswa melanjutkan diskusi dan berlatih, pada sesi II masing masing kelompok ditugaskan untuk berlatih mempraktekan dan menunjukan rangkaian kegiatan jurnalsitik umum yang dimulai dari membaca berita (news reading), melaporkan berita (reporting) dan memberikan berita (resources person) secara terintegrasi. Guru memberikan bimbingan dengan memerintahkan kelompok untuk menguji coba apa yang telah didiskusikan di tempatnya masing masing. Pengamat juga memberikan masukan terhadap kelompok yang telah melakukan uji coba sebagai bahan acuan perbaikan pada saat penampilan di depan kelas pada pertemuuan III. Kegiatan ini berlangsung selama 2x45 menit.
c. Pertemuan 3 Silkus II
pertemuan 3 dilaksanakan ada hari Senin tanggal 19 Nopember 2011. Pada pertemuan kali ini, setelah berdiskusi dan berlatih, pada pertemuan 2 masing masing kelompok ditugaskan untuk menunjukan rangkaian kegiatan scramble . Kegiatan ini sekaligus merupakan tes dari semua kegiatan yang dilakukan pada sklus II untuk mengetahui tingkat peningkatan kemampuan siswa dalam menjwab soal. Guru memberikan penilaian dengan berdasarkan pada tes menjawab soal . Kegiatan ini berlansung selama 20 menit. Berikut ini adalah table hasil ulangan harian siswa pada siklus II.
Tabel Hasil Ulangan Harian (Siklus II)
PENILAIAN KOKNITIF
Mata Pelajaran Pkn
Kelas / Smt X.3/I
KD
No Nama Siswa NILAI KD
KETERANGAN
1 Abdillah 78 TUNTAS
2 Apis Sumarna 78 TUNTAS
3 Dian Rizal Fahmi 80 TUNTAS
4 Dian Suryana 79 TUNTAS
5 Dorwansyah 78 TUNTAS
6 Febriansyah 79 TUNTAS
7 Fithrah Febriansyah 69 REMEDIAL
8 Fitriani 79 TUNTAS
9 Haris Akbar 80 TUNTAS
10 Hery Erian Bustiana 68 REMEDIAL
11 Ica Noviska 60 REMEDIAL
12 Julian Maulidan 79 TUNTAS
13 Malahayati 58 REMEDIAL
14 Maulana Akbar 77 TUNTAS
15 Musriza 80 TUNTAS
16 Nurul Aulia 69 REMEDIAL
17 Rabial Rizki 80 REMEDIAL
19 Sayed Nanda Efendi 60 REMEDIAL
20 Sri Wulandari 79 TUNTAS
21 Syahrial Andika 80 TUNTAS
22 Tiara Intan Ultari 77 TUNTAS
RATA-RATA 74.5
Dari table di atas dapat kita lihat bahwa sebanyak 12 (71%) orang telah mencapai nilai ketuntasan dengan nilai yang didapat di atas KKM (70). Sedangnkan 5 orang (29%) belum mencapai nilai tuntas dengan nilai di bawah KKM yang telah ditetapkan. Pada siklus II ini ada 4 orang yang mendapatkan nilai 80 ke atas.
d. Pengamatan(Observing) Siklus II
Pengamatan siklus II dilakukan oleh dua orang observer yang sama. Aspek yang diamati adalah aktivitas siswa dalam pembelajaran terutama pada kerja kerja kelompok dan guru pada pemberian bimbingan pembelajaran yang terfokus pada kerja kerja kelompok. Pengamatan aktivitas siswa dalam Pembelajaran dilakukan oleh Endang Sriwati S.Pd., sedangkan pengamatan ke 2, guru dilakukan oleh Isreja Suhartoni, S.Pd. Pada pengamatan siklus II ditemukan hal hal berikut:
Siswa bertambah semangat dan tertantang untuk memahami dan menghafal kata –kata baru yang di dapati di Koran ,dan internet.yang telah diplih
1 kelompok meminta tambahan pertemuan dengan alasan belum siap utuk tampil dan perlu tambahan waktu untuk berlatih dalam kelompoknya sebelum tampil ke depan kelas.
Masing masing kelompok terlihat lebih siap untuk tampil ke depan sehingg rasa takut dan grogi sudah Nampak berkurang.
Guru pembimbing bisa lebih banyak memberikan bimbingan dan pengarahan kepada semua kelompok sehinga siswa lebih termotivasi.
e. Refleksi Siklus II
Refleksi siklus II dilaksanakan setelah siklus II selesai dilakukan. Kegiatan refleksi dilakukan dalam bentuk musyawarah tim peneliti. Semua hasil pengamatan didiskusikan dan dicarikan penyelesaiannya untuk dijadikan pedoman pelaksanaan siklus berikutnya. Berdasarkan pada hasil pengamatan maka pada siklus III tidak ada penambahan waktu atau pertemuan, malahan untuk lebih memacu siswa pada silkus III masing masing siswa/anggota kelompok pada semua peran tidak dibenarkan untuk melihat buku atau catatan lainya pada saat penampilan didepan kelas. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk melihat tingkat kemampuan siswa bila menjawab soal tanpa melihat konsep atau catatan lainya.
D. Diskripsi Silkus III
Siklus III terdiri dari tiga sesi (pertemuan). Pada siklus III tidak ada perubahan yang signifikan, hanya masing masing siswa dalam peranya tidak dibenarkan membawa buku atau catatan ketika tampil ke depan kelas.
D.1 Perencanaan Silkus III
Pada siklus III ini masing masing kelompok ditugaskan untuk menukar anggota kelompok . Siswa yang pada siklus II di kelompok satu menjadi kelompok dua. Setelah masing masing anggota kelompok menukar anggotanya. selanjutnya kelompok ditugaskan untuk mencari berita yang menyangkut dengan perlidungan HAM yang berbeda dengan pada siklus II. Indikator yang dipilih tidak boleh sama dengan Indikator yang telah dipilih oleh kelompok lain pada siklus I dan II
D.2 Pelaksanaan (Implemeting) Siklus III
a. Pertemuan 1 Siklus III
Pertemuan 1 pada siklus III dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 22 Nopember 2011. Kegiatan yang dilakukan sama dengan pertemuan 2 pada siklus II yaitu setelah mendapatkan bahan ,yang ditugaskan oleh guru, tugas selanjutnya kelompok mendikusikan materi yang di berikan oleh guru.
b. Pertemuan II Siklus III
Pada Pertemuan II siklus III yang dilaksanakan pada Jumat tanggal 23 April 2011, siswa melanjutkan diskusi dan berlatih, pada sesi II masing masing kelompok ditugaskan untuk menghafal pasal yang berkaitan dengan HAM.
c. Pertemuan III siklus III
Pertemuan /sesi III dilaksanakan pada hari Senin, Tanggal 26 Nopember 2011. Pada pertemuan ini masing masing kelompok ditugaskan untuk memjawab soal secara individun Kegiatan ini sekaligus merupakan tes dari semua kegiatan yang dilakukan pada sklus III untuk mengetahui tingkat peningkatan kemampuan menjawab soal. Guru tim peneliti memberikan penilaian dengan berdasarkan pada kemampuan masing –masing kelompok secara indinidu . Berikut ini adalah hasil ulangan harian siswa pada siklus III:
Tabel Hasil Ulangan Harian (Siklus III)
PENILAIAN PSIKOMOTOR
Mata Pelajaran PKN
Kelas / Smt
X.3/I
Nilai
Koknitif
JENIS TEKS NEWS ITEM
No Nama Siswa NILAI KD KETERANGAN
1 Abdillah 78 TUNTAS
2 Apis Sumarna 78 TUNTAS
3 Dian Suryana 82 TUNTAS
4 Dorwansyah 81 TUNTAS
5 Febriansyah 80 TUNTAS
6 Fitrah Febriansyah 70 TUNTAS
7 Haris Akbar 85 TUNTAS
8 Heri Herian B 70 TUNTAS
9 Icha Noviska 85 TUNTAS
10 Julian Maulidan 79 TUNTAS
11 Maulana Akbar 74 TUNTAS
12 Musriza 80 TUNTAS
13 Nurul Aulia 70 TUNTAS
14 Rabial Riski 80 TUNTAS
15 Said Nanda E 80 TUNTAS
16 Sri Wulandari 83 TUNTAS
17 Syahrial Andika 85 TUNTAS
18 tiara Intan ultari 83 TUNTAS
19 ayu wida yanti 85 TUNTAS
RERATA 85
Dari tabel di atas dapat kita lihat bahwa sebanyak 16 (94%) orang telah mencapai nilai ketuntasan dengan nialai yang didapat di atas KKM (70). Sedangkan 1 orang (6%) belum mencapai nilai tuntas dengan nilai di bawah KKM yang telah ditetapkan. Pada siklus II ini ada 9 (53%) orang yang mendapatkan nilai 80 ke atas.
d .Pengamatan Siklus III
Pengamatan siklus III juga dilakukan oleh dua orang observer yang sama. Aspek yang diamati adalah aktivitas siswa dalam pembelajaran terutama pada kerja kerja kelompok dan guru pada penyajian pembelajaran. Pengamatan aktivitas siswa dalam Pembelajaran dilakukan oleh Endang Sriwati,S.pd sedangkan penyajian pembelajaran oleh guru diamati oleh Isreja Suhartoni, S.Pd. Pada siklus III ditemukan semua kelompok lebih siap untuk tampil mempraktekan hasil diskusi dan yang telah dipelajari ke depan kelas. Secara mental siswa juga lebih siap untuk menujukan penapilan terbaiknya.
Refleksi Siklus III
Refleksi siklus III dilaksanakan setelah siklus III selesai dilakukan. Kegiatan refleksi dilakukan dalam bentuk musyawarah tim peneliti. Semua hasil pengamatan didiskusikan dan dicarikan penyelesaiannya untuk dijadikan bahan masukan rekomendasi dalam pembuatan laporan penelitian. Dari hasil nilai praktek yang diperoleh siswa dan juga hasil wawancara dengan siswa membuat penulis merasa optimis bahwa model ini bisa dijadikan rujukan untuk pembelajaran PKN. Karena dari hasil pengamatan pada semua siklus semua siswa sangat senang dan aktif mengikuti semua proses pembelajaran.
Pembahasan Antar Siklus Penelitian
Berdasarkan pada hasil temuan, tes maupun hasil pengamatan dan wawancara, dapat digambarkan bahwa terjadi peningkatan yang signifikan baik proses dan kualitas hasil belajar siswa. Dari data yang diperoleh terjadi peningkatan peningkatan pada semua aspek yang dinilai dan diamati. Pada akhir silkus I terjadi peningkatan prestasi belajar siswa dari kondisi awal siswa yang hanya mendapat nilai rata rata 50,50 pada nilai KD tersebut rata- rata 62,56. Artinya terjadi kenaikan 23,8%. Pada akhir siklus II terjadi kenaikan nilai rata rata hasil belajar siswa yaitu 72,20 (13,35%). Pada akhir siklus III terjadi kenaikan nilai rata rata siswa yaitu 76,86 atau terjadi kenaikan 6,06 %. Dengan demikian bila dilihat dari data perolehan nilai rata rata hasil belajar siswa pada semua siklus dan kita bandingkan dengan kondisi awal nilai rata - rata siswa dapat kita lihat bahwa terjadi kenaikan yang bagus yaitu dari 50,50 menjadi 76,86 atau naik 34,29%. Selain itu dapat kita simpulkan juga bahwa terjadi kenaikan pada motivasi dan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran hal ini dapat dilihat pada daftar jawaban siswa pada saat menjawab soal.
Dari empat indikator kinerja yang ditetapkan penulis di awal penelitian, yaitu:
Di atas 80% siswa mencapai nilai tuntas pada nilai aspek psikomotor
Di atas 90 % motivasi dan partisipasi siswa belajar pkn meningkat
90% siswa menyatakan proses pembelajaran dengan metode Scramble menarik dan menyenangkan
80% penguasaan pasal yang berhubungan dengan HAM. Siswa dapat meningkat hasil rata rata 10 pasal
Semuanya tercapai dimana pada indikator 1, dari 80% yang ditargetkan tuntas pada nilai aspek kognitif 95 % tuntas bahkan ada 8 orang (53%) mendapatkan nilai di atas 80. Pada inidikator 2, semua siswa (100%) menyatakan motivasi dan partsipasi dalam belajar pkn terutama pada aspek haf mealan ningkat. Pada indikator 3, semua siswa menyatakan proses pembelajaran dengan menggunakan metode Scramble menarik, menyenagkan dan menantang. Pada indikator no 4, 15 siswa (88%) memilki peningkatan penguasaan 10 pasal yang berkaitan dengan HAM .
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan pada temuan hasil penelitian pembelajaran dengan mengggunakan
Model sramble dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
Pembelajaran pkn dengan menggunakan model skramble dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
Pembelajaran pkn dengan menggunakan model sramble dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Pembelajaran dengan menggunakan model sramble membuat siswa merasa antusias dan tertantang dalam beljar pkn.
Saran-saran
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam pembelajaran pkn dengan menggunakan model sramble disarankan sebagai berikut:
Pencarian materi yang akan dijadikan tek sebaiknya dilakukan di luar jam tatap muka terutama bila terjadi keterbatasan sumber materi.
Siswa diberikan tugas kelompok untuk mencari materi sebelum mereka tampil di depan kelas, sehingga akan lebih siap
Agar siswa banyak mengetahui materi yang akan dibahas.setelah diketahui dan dihafal .sebaiknya siswa diberikan tugas mandiri untuk menghafal pasal-pasalkaitan dengan HAM. dalam kehidupan sehari hari
Bila kondisi memungkinkan model pembelajaran ini bisa dibawa ke dalam situasi yang nyata.
Daftar Pustaka
1.tim ICCE UIN Jakarta 2003 ,Demokrasi ,Hak Asasi Manusia,dan masyarakat madani ,Jakarta prenada Media bekerja sama dengan UIN Jakarta
2.Random Naning SH. “Cita dan citra Hak Asasi Manusia di Indonesia” ,Jakarta, Lembaga Kriminologi UI, 1983
3.Yudana Sumanang T.S., Dra. Sh., “Hak-hak Asasi Manusia”, Jakarta, Pustaka Pengetahuan Umum
4. Yudana Sumanang T.S., Dra. Sh., Jurnal Demokrasi dan HAM, Jakarta, The Habibie Center, Vol.1, No.3, Maret-Juni, 2001
5. Yudana Sumanang T.S., Dra. Sh., Undang-Undang Mahkamah Konstitusi(UU No. 24 Tahun 2003), Jakarta, Sinar Grafika, 2003
6. Yudana Sumanang T.S., Dra. Sh., Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Korupsi”, Bandung, Citra Umbara, 2003
7. Yudana Sumanang T.S., Dra. Sh., Undang-Undang HAM 1999 ( UU RI No. 39 Tahun 1999), Jakarta, Sinar Grafika, 2001
8. Yudana Sumanang T.S., Dra. Sh., Undang-Undang Tentang Pengadilan Hak-Hak Asasi Manusia 2000 dan Undang-Undang HAM 1999, Jakarta, Dirjen Perlindungan HAM Departemen Kehakiman dan HAM-RI, 2000
PENGESAHAN LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS
1. JUDUL PENELITIAN:
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X.3
SMA Negeri Unggul Aceh Timur
Pada Materi penghormatan dan perlindungan HAM di Indonesia
Melalui Penerapan Metode Scramble
b. Mata Pelajaran : PKN
2. Peneliti
a. Nama Lengkap : NURLEILI,S.Pd
b. Jenis Kelamin : perempuan
c. Golongan/Nip : III/c/19720710200504 2002
d. Jabatan Funsional : Guru
e. Jabatan struktural :-----
f. Unit Kerja : SMA Negeri Unggul Aceh Timur
3. Jumlah Peneliti : 3 orang anggota (obsever)
4. Lokasi penelitian : Birem Bayeun, Aceh Timur
Mengesahkan, Birem Bayeun, juli 2011
Kepala SMAN Unggul Aceh Timur Peneliti
Drs. M Thaib M Syah, M.Pd NURLEILI.S.Pd
Nip. 19571231 199003 1 018 Nip. 197207102005042002
OLEH
NURLEILI,S.Pd
OBSERVER : 1.ENDANG SRIWATI.S.Pd
2. ISREJA SUHARTONI, S.Pd
MATA PELAJARAN : PKN
TEMPAT PENELITIAN : SMA NEGERI UNGGUL ACEH TIMUR
WAKTU PENELITIAN : APRIL – MEI 2011
ANGGARAN BIAYA : Rp. 1.000.000
SUMBER DANA : SMA NEGERI UNGGUL ACEH TIMUR
MENGETAHUI, BIREM BAYEUN, 23 APRIL 2011
KEPALA SMAN UNGGUL ACEH TIMUR GURU MATA PELAJARAN
DRS. M THAIB M. SYAH, M.Pd NURLEILI, S.Pd
NIP. 19571231 199003 1 018 NIP. 19720710 200504 2 002
Jumat, 27 April 2012
Pancasila Sebagai ideologi Nasional
30 Januari 2010 — NURLEILI,SPD UNGGUL

Pancasila
Sebagai ideologi Nasional
1. Pengertian
Pancasila Sebagai Ideologi Nasional
Ideologi berasal dari kata ideo artinya cita-cita,gagasan,konsep
pengertian dasar, cita-cita. dan logy berarti: pengetahuan, ilmu dan paham.
Dalam pengertian sehari-hari, idea disamakan artinya dengan “cita-cita”.
Cita-cita yang dimaksud adalah cita-cita yang bersifat tetap yang harus dicapai
sehingga cita-cita itu sekaligus merupakan dasar atau pandangan/paham. Hubungan
manusia dan cita-ctanya disebut dengan ideologi. Ideologi berisi seperangkat
nilai, dimana nilai-nilai itu menjadi cita-citanya atau manusia bekerja dan
bertindak untuk mencapai nilai-nilai tersebut. Ideologi yang pada mulanya
berisi seperangkat gagasan, dan cita-cita berkembang secara luas menjadi suatu
paham menngenai seperangkat nilai atau pemikiran yang dipegang oleh seseorang
atau sekelompok orang untuk menjadi pegangan hidup.
Adapun ideologi negara itu ternasuk dalam golongan
pengetahuan sosial, dan tepatnya dapat digolongkan kedalam ilmu politik atau
political sciences sebagai anak cabangnya. Bila kita terapakan rumusan ini pada
Pancasila dengan definisi-definisi filsafat dapat kita simpulkan, maka
Pancasila itu ialah hasil usaha pemikiran manusia untuk mencari kebenaran,
kemudian sampai mendekati atau menggangggap suatu kesanggupan yang digenggamnya
seirama dengan ruang dan waktu. Hasil pemikiran manusia Indonesia yang
sungguh-sungguh secara sistematis radikal itu kemudian dituangkan dalam suatu
rangkaian kalimat yang mengandung satu pemikiran yang bermakna bulat dan utuh
untuk dijadikan dasar, asas dan pedoman atau norma hidup dan kehidupan bersama
dalam rangka perumusan satu negara Indonesia merdeka, yang diberi nama
Pancasila.
Pancasila sebagai dasar negara, maka mengamalkan dan
mengamankan Pancasila sebagai dasar negara mempunyai sifat imperative dan
memaksa, artinya setiap warga negara Indonesia harus tunduk dan taat kepadanya.
Siapa saja yang melanggar Pancasila sebagai dasar negara harus ditindak menurut
hukum, yaitu hukum yang berlaku di Indonesia. Dengan kata lain pengamalan
Pancasila sebagai ideologi , yaitu pelaksanaan Pancasila dalam
kehidupan sehari-hari tidak disertai sanksi-sanksi hukum tetapi mempunyai
sifat mengikat, artinya setiap manusia Indonesia terkiat dengan cita-cita yang
terkandung didalamnya untuk mewujudkan dalam hidup dan kehidupannya, sepanjang
tidak melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Jadi mengamalkan dan mengamankan Pancasila sebagai
dasar negara mempunyai sifat imperative dan memaksa. Sedangkan pengamalan atau
pelaksanaan Pancasila sebagai pandangan hidup dalam hidup
sehari-hari tidak disertai sanksi-sanksi hukum tetapi punya sifat
mengikat.
Pancasila sebagai filsafat bangsa dan negara
dihubungkan dengan fungsinya sebagai dasar negara, yang merupakan landasan
idiil bangsa Indonesia dan negara Republik Indonesia dapatlah disebut sebagai
ideologi nasional atau lebih tepat ideologi negara. Artinya
Pancasila merupakan satu ideologi yang dianut oleh negara atau pemerintah dan
rakyat Indonesia secara keseluruhan, bukan milik atau monopoli seseorang
ataupun sesuatu golongan masyarakat tertentu.
Dalam ideologi terkandung nilai-nilai.
Nilai-nilai itu dianggap sebagai nilai yang baik, luhur dan dianggap
menguntungkan masyarakat sehingga diterima nilai tersebut. Oleh karena itu,
ideologi digambarkan sebagai seperangkat gagasan tentang kebaikan bersama.
Seperangkat nilai yang dianggap benar, baik dan adil dan menguntugkan itu
dijadikan nilai bersama. Apabila sekelompok masyarakat bangsa menjadikan
nilai dalam ideologi sebagai nilai bersama maka ideologi tersebut menjadi
ideologi bangsa atau ideologi nasional bangsa yang bersangkutan.
Pancasila sebagai ideologi nasional dapat
diklasifikasikan melalui :
1. Dilihat dari kandungan muatan suatu ideologi,
setiap ideologi mengandung di dalamnya sistem nilai yang diyakini sebagai
sesuatu yang baik dan benar. Nilai-nilai itu akan merupakan cita-cita yang
memberi arah terhadap perjuangan bangsa dan negara.
2. Sistem nilai kepercayaan itu tumbuh dan dibentuk
oleh interaksinya dengan berbagai pandangan dan aliran yang berlingkup mondial
dan menjadi kesepakatan bersama dari suatu bangsa.
3. Sistem nilai itu teruji melalui perkembangan
sejarah secara terus-menerus dan menumbuhkan konsensus dasar yang tercermin
dalam kesepakatan para pendiri negara (the fouding father).
4. Sistem nilai itu memiliki elemen psikologis yang
tumbuh dan dibentuk melalui pengalaman bersama dalam suatu perjalanan sejarah
bersama, sehingga memberi kekuatan motivasional untuk tunduk pada cita-cita
bersama.
5. Sistem nilai itu telah memperoleh kekuatan
konstitusional sebagai dasar negara dan sekaligus menjadi cita-cita luhur
bangsa dan negara.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pancasila ideologi
nasional dipahami dalam perspektif kebudayaan bangsa dan bukan dalam perpektif
kekuasaan, sehingga bukan sebagai alat kekuasaan.
Ada 2 (dua) fungsi utama ideologi dalam masyarakat, Pertama yaitu sebagai tujuan atau cita-cita
yang hendak dicapai secara bersama oleh suatu masyarakat.Kedua, sebagai pemersatu masyarakat dan
karenanya sebagai prosedur penyelesaian konflik yang terjadi di masyarakat.
Dalam kaitannya dengan yang pertama, nilai dalam ideologi menjadi cita-cita
atau tujuan dari masyarakat. Tujuan hidup bermasyarakat adalah untu mencapai
terwujudnya nila-nilai dalam ideologi itu. Adapun dalam kaitannya yang kedua ,
nilai dalam ideologi itu merupakan nilai yang disepakati bersama sehingga dapat
mempersatukan masyarakat itu, serta nilai bersama tersebut dijadikan acuan bagi
penyelesaian suatu masalah yang mungkin timbul dalam kehidupan masyarakat yang
bersangkutan.
Ideologi sebagai suatu sistem pemikiran dapat
dibedakan menjadi ideologi terbuka dan ideologi tertutup.
A. Ideologi Terbuka, merupakan suatu pemikiran
yang terbuka. Ideologi terbuka mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
·
Bahwa
nilai-nilai dan cita-citanya tidak dapat dipaksakan dari luar melainkan digali
dan diambil dari moral, budaya masayarakat itu sendiri.
·
Dasarnya
bukan keyakinan ideologis sekelompok orang melainkan hasil musyawarah dari
konsensus masyarakat tersebut.
·
Nilai-nilai
itu sifatnya dasar, secara garis besar saja sehingga tidak langsung
operasional.
B. Ideologi tertutup, merupakan suatu sistem pemikiran
tertutup. Ideologi ini mempunyai cirri sebagai berikut.
·
Merupakan
cita-cita suatu kelompok orang untuk mengubah dan memperbaharui masyarakat.
Atas Nama Ideologi dibenarkan pengorbanan-pengorbanan yang dibebankan kepada
masyarakat.
·
Isinya
bukan hanya nilai-nilai dan cita-cita tertentu, melainkan terdiri
tuntutan-tuntutan konkret dan oprasional yang keras dan diajukan mutlak.
Pancasila sebagai sebuah pemikiran memenuhi ciri
sebagai ideoloi terbuka. Nilai yang terkandung dalam ideologi Pancasila
bukanlah nilai-nilai luar tetapi bersumber dari kekayaan rohani bangsa, serta
diterimanya nilai bersama itu adalah hasil kesepakatan warga bangsa bukan
paksaan atau tekanan pihak lain.
2. Selaku Ideologi
Nasional, Pancasila Memiliki Beberapa Dimensi :
a. Dimensi Idealitas artinya ideologi Pancasila mengandung
harapan-harapan dan cita-cita di berbagai bidang kehidupan yang ingin dicapai
masyarakat.
b. Dimensi Realitas artinya nilai-nilai dasar yang
terkandung di dalamnya bersumber dari nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat
penganutnya, yang menjadi milik mereka bersama dan yang tak asing bagi mereka.
c. Dimensi normalitas artinya Pancasila mengandung nilai-nilai
yang bersifat mengikat masyarakatnya yang berupa norma-norma atauran-aturan
yang harus dipatuhi atau ditaati yang sifatnya positif.
d. Dimensi Fleksilibelitas artinya ideologi Pancasila itu mengikuti
perkembangan jaman, dapat berinteraksi dengan perkembangan jaman, dapat
mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi, bersifat terbuka dan demokratis.
3. Pancasila merupakan
Ideologi terbuka
Pancasila dapat menerima dan mengembangkan ideologi
baru dari luar, dapat berinteraksi dengan perkembangan/perubahan zaman dan
lingkungannya, bersifat demokratis dalam arti membuka diri akan masuknya budaya
luar dan dapat menampung pengaruh nilai-nilai dari luar yang kemudian
diinkorporasi, untuk memperkaya aneka bentuk dan ragam kehidupan bermasyarakat
di Indonesia juga memuat empat dimensi secara menyeluruh.
Setiap negara memiliki ideologi tersendiri. Ada yang
memiliki ideologi individualistik yang memandang manusia dari sisi hak
asasinya, ideologi komunistik yang memendasarkan diri pada premise bahwa semua
materi berkembang mengikuti hukum kontradiksi, dengan menempuh proses dialektik
yang mana di dalam diri manusia tidak ada yang permanen sehingga kontradiksi
terhadap lingkungan selalu menghasilkan perubahan yang menentukan diri manusia
dan faham agama yang bersumber dari falsafah agama yang termuat dalam kiblat
suci agama. Indonesia sendiri menganut ideologi pancasila yang memandang
manusia selaku makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan selalu
membutuhkan yang lain.
Pancasila dan kelima silanya merupakan kesatuan yang
bulat dan utuh, sehingga pemahaman dan pengalamannya harus mencakup semua nilai
yang terkandung di dalamnya.

Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab,
mengandung nilai satu
derajat, sama hak dan kewajiban, serta bertoleransi dan saling mencintai.
Sila Persatuan Indonesia, mengandung nilai kebersamaan, bersatu
dalam memerangi penjajah dan bersatu dalam mengembangkan negara Indonesia.
Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh
Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, mengandung nilai kedaulatan berada di
tangan rakyat atau demokrasi yang dijelmakan oleh persatuan nasional yang rill
dan wajar.
Sila Keadiilan Sosial bagi Seluruh
Rakyat Indonesia,
mengandung sikap adil, menghormati hak orang lain dan bersikap gotong royong
yang menjadi kemakmuran masyarakat secara menyeluruh dan merata.
Langganan:
Postingan (Atom)